TENTANG PEREMPUAN : LABELISASI, EMANSIPASI DAN EKSISTENSI

Oleh : Retno Triastuti

Departemen Social Movement ENERGI Bogor

Saat ini masih banyak problematika mengenai perempuan terkait labelisasi, emansipasi, eksistensi. Dalam perkembangannya memaknai perempuan seringkali sarat akan makna negatif dan peyoratif. Tulisan ini mengurai makna sesungguhnya perempuan melalui pendekatan linguistik historis serta peran sentralnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Labelisasi Dibalik Definisi

KBBI memiliki hal yang menarik untuk diperhatikan terkait dengan penggabungan kata untuk perempuan dimana KBBI I-V selalu mencantumkan kata gabungan yang bersifat negatif dan peyoratif untuk perempuan.

Dilihat pada KBBI I, terdapat tujuh kata gabungan di bawah kata perempuan. Terdiri dari –geladak (pelacur), -jahat (perempuan yang buruk kelakuannya), -jalang (pelacur), -jangak (perempuan cabul), -lecah (pelacur), -nakal (perempuan tuna susila). Maka pada KBBI II (1991) edisi selanjutnya terdapat tambahan -lacur (pelacur), dan –simpanan (istri gelap) di KBBI III-V (2001-2016). Hal tersebut akhirnya menimbulkan asumsi bahwa selalu ada makna atau citra negatif yang ditanamkan dalam sifat-sifat yang terkait dengan perempuan.

Lebih lanjut, diperhatikan pada Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karya W.J.S Poerwadarminta. Kata-kata diluar kamus yang berhubungan dengan perempuan, juga diartikan dengan nuansa peyoratif dan negatif. Sebut saja misalnya kata “perawan” yang diartikan dengan: gadis, anak dara, gadis yang sudah tua. Meski bukan merupakan makna utama, frasa “gadis yang sudah tua” merupakan pemberian makna yang bercorak negatif.

Mengacu pada Hipotesis Sapir dan Worf, bahwa bahasa memiliki ikatan yang kuat dengan budaya. Sampai pada kesimpulan bahwa cara pandang kita terhadap perempuan memang masih menggunakan perspektif patriarki, bahkan misoginis. Tidak hanya pemaknaan arti kata perempuan yang akhirnya menimbulkan labelilasi citra negatif. Ada pun faktor-faktor lain seperti budaya, tradisi, adat, dan status perempuan di Indonesia bahkan di dunia yang akhirnya membelenggu kaum perempuan dengan ketimpangan lainnya

Hingga saat ini, jejak praktik budaya, tradisi, adat dan hukum informal masih melekat, menyatu dan ada dalam praktik masyarakat Indonesia ‘modern’. Contohnya seperti, praktik tradisi kawin-paksa, tes keperawanan, sunat perempuan, dan lain-lain. Bahkan masih utuh dipraktikkan di kota-kota yang diklaim sebagai lebih modern dari beberapa bagian masyarakat tradisional. Tidak sedikit pula pandangan yang akhirnya membuat kesan bahwa perempuan sebagai status rendah dalam kehidupan dunia.

Emansipasi R.A Kartini

Perbincangan dan perjuangan hak-hak perempuan timbul karena adanya kesadaran pergaulan, dan arus informasi yang membuat perempuan Indonesia semakin kritis dengan apa yang menimpa kaumnya. Perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan pergerakan kaum perempuan di dunia. Perkembangan gerakan kaum perempuan menunjukkan kemajuannya dengan munculnya wacana gender pada tahun 1977, hal tersebut di latar belakangi oleh sekelompok ferminis di London yang tidak lagi menggunakan isu-isu seperti patriarcal, namun mereka lebih memilih menggunakan gender discourse. Munculnya perkembangan gerakan perempuan di belajan dunia, membawa imbas terhadap gerakan perempuan di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini menjadi sosok perempuan di balik lahirnya sebuah emansipasi di Indonesia. Melalui pemikiran yang ia tuangkan dalam tulisan yang dimuat pada buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, oleh R.A. Kartini terjemahan Armijn Pane yang berbunyi:

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan didikan karena inilah yang akan membawa bahagia baginya”

R.A Kartini

Kartini banyak membahas soal perjuangan kaum wanita untuk memperoleh kebebasan, persamaan hukum, dan pendidikan yang layak. Emansipasi wanita itu sendiri, tidak semata-mata berfokus pada kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam beragam bidang. Namun lebih kepada, bagaimana wanita dapat berkembang dan maju dari waktu ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya. Hingga akhirnya gerakan emansipasi wanita yang dilakukan R.A. Kartini, telah merintis jalan yang terang untuk membawa kaum perempuan dan perhatian bangsa Indonesia ke arah cita-cita nasional sampai saat ini.

Eksistensi Perempuan di Bogor

Keberadaan kaum perempuan di Indonesia kini tidak lagi diremehkan hingga dipandang sebelah mata. Karena nyatanya banyak potensi dan dedikasi kaum perempuan Indonesia yang melambung bahkan tak jarang lebih unggul. Sejarah telah mencatat kaum perempuan memiliki peran yang besar dalam hal pembangunan bangsa. Seperti pada ucapan dari beberapa tokoh pembangunan nasional seperti Presiden Soeharto, yang mengatakan bahwa tanpa mengikut sertakan kaum wanita, pembangunan akan pincang. Untuk itu gender dalam kajian sejarah wanita merupakan bentuk peran perempuan yang dikonstruksikan secara sosial. Yang mana peran tersebut dipelajari, berubah dari waktu ke waktu dan beragam menurut budaya. Pendidikan merupakan pondasi dasar untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan.

Sebagai bentuk nyata berhasilnya emansipasi perempuan di Indonesia, Kota Bogor menjadi contoh eksistensi kaum perempuan dengan berbagai potensi dan dedikasi tinggi. Salah satunya dibuktikan dengan tinjauan dari sisi akademisi oleh Dosen FISIP Universitas Djuanda Bogor, Dr. Hj. Rita Rahmawati, Dra., M.Si yang melihat bahwa pembangunan Gender di kabupaten Bogor sudah berjalan dengan baik. Selain itu, perempuan di Kabupaten Bogor secara terbuka diberikan kebebasan untuk berkarya dan ikut serta dalam kemajuan pembangunan. Menurutnya pula, pembangunan gender di Kabupaten Bogor sudah sangat baik, diukur dari index pembangunan gender di Kabupaten Bogor dibandingkan dengan index nasional. Faktanya, sudah banyak perempuan di Kabupaten Bogor menduduki posisi strategis seperti Ketua KPU dan Bupati Bogor.

Selain itu, Bogor juga memiliki Aliansi Peduli Perempuan Indonesia (Alinea). Organisasi ini merupakan wadah perempuan untuk berkarya dan berperan aktif dalam membangun Kabupaten Bogor. Karena menurut Bupati Bogor Ade Yasin, program pemerintah Kabupaten Bogor yang saat ini berfokus dalam peningkatan Ekonomi melalui pemberdayaan UMKM, juga memiliki kaitan dengan perempuan yaitu karena penggiat UMKM di Kabupaten Bogor terbanyak adalah perempuan. Sehingga dengan adanya Alinea diharapkan mampu memajukan kaum perempuan Kabupaten Bogor menjadi perempuan yang kuat, berkompeten dan percaya diri untuk dapat berkiprah dalam upaya pembangunan dan kemajuan Kabupaten Bogor.

Sumber :

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Sudiyo. 2004. Pergerakan Nasional Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan. Jakarta: Rineka Cipta.

http://www.jurnalperempuan.org/jurnal-perempuan.html

https://nursing.ui.ac.id/memaknai-emansipasi-wanita-di-masa-kini/

https://www.unida.ac.id/bhp/artikel/maksimalkan-peran-perempuan-bagi-pembangunan-kabupaten-bogor-wakil-rektor-3-unida-berikan-pemaparan.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *