Potret Pendidikan dan Kebijakannya di Indonesia

Pandemi COVID-19 turut memberikan dampak yang signifikan terhadap potret pendidikan di Indonesia. Metode konvensional tatap muka dalam sistem belajar mengajar di Indonesia terpaksa harus di alihkan menuju metode belajar yang berbasiskan digital. Hal ini dapat dikatakan sebagai adaptasi sekaligus shock therapy bagi masyarakat, khususnya yang belum paham metode seperti ini.

Dampaknya banyak yang terkendala dalam sistem belajar ini. Penulis sempat melihat di salah satu video yang tersebar di media sosial. Terdapat eksperimen sosial seperti tanya jawab kepada anak-anak. Sang konten kreator bernama @papagroot menanyakan dua hal kepada seorang anak kecil.

“iri?”

“bilang bos” jawab anak kecil tersebut.

Ketika sang konten kreator menanyakan “pancasila, empat” anak kecil tersebut menjawab dengan kesulitan lalu gagal menjawab dan ia mengatakan “udah lama gak sekolah”.

Perubahan Kebijakan Pendidikan

Berbicara pendidikan di Indonesia tentunya tidak ada habisnya. Karena sudah banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada kurikulum lalu. Adanya perubahan pada kementerian yang berkaitan dengan pendidikan ditambah sekarang saat ini sedang mengalami masa pandemi.

Pertama mari mengingat para generasi kelahiran ‘98 dimana mereka yang merasakan pertama kalinya ujian nasional dengan 5 jenis paket soal yang berbeda, lalu ketika masuk ke SMP mereka mengalami perubahan baru dimana ujian nasional saat itu menggunakan paket soal yang berbeda dengan barcode, tidak berhenti disitu saat memasuki awal SMA mereka mengalami perubahan kurikulum dari KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013.

Setelah satu tahun kurikulum tersebut diubah kembali menjadi KTSP 2006 namun beberapa sekolah tepatnya di Kota Bogor ada yang melanjutkan kurikulum  2013.

Fenomena yang selalu dialami generasi 98 adalah saat memasuki fase akhir masa sekolah dimana kembali pada tahun 2016 kemendikbud mencoba sistem ujian nasional berbasil online, dari semua yang telah diubah tersebut tidak ada salahnya karena pasti berniat untuk kebaikan dan kemajuan pendidikan di indonesia.

Namun setelah masuk ke jenjang perkuliahan penulis sendiri menyadari bahwa ada kurangnya sistem pendidikan di Indonesia yaitu tidak adanya gambaran yang jelas untuk lapangan pekerjaan dan jurusan apa saja yang cocok untuk jenis pekerjaan yang ada di indonesia.

Lalu banyaknya juga kesalahan stereotype masyarakat indonesia seperti lulusan teknik mesin itu kerja di bengkel atau perusahaan otomotif padahal nyatanya terdapat memang jurusan yang spesifik untuk otomotif yaitu teknik otomotif misalnya pada jenjang SMK atau Diploma, contoh lain juga seperti semua yang lulusan ilmu komputer dianggap bisa semuanya mengenai pemrograman baik hardware maupun software nyatanya ilmu komputer pun dipecah menjadi banyak seperti sistem informasi, teknik komputer, dan teknik informatika.

Saran penulis perlunya pengenalan profesi sejak sekolah menengah pertama dan apa saja yang harus di fokuskan untuk dapat berguna di masa yang akan mendatang.

Memasuki Periode Ke 2 Presiden Jokowi

Kementrian Riset dan Teknologi tidak lagi membawahi perguruan tinggi di Indonesia. Kuartal pertama 2021 dihebohkan lagi bahwa pemerintah berencana meleburkan Kemenristekdikti dan Kemendikbud membentuk Kementerian baru yakni Kementerian Investasi. Menurut penilaian Trubus, rencana tersebut berangkat dari asumsi pemerintah bahwa ristek tidak menghasilkan sesuatu yang konkret dan dianggap menghamburkan anggaran. Ditambah tidak ada urgensi pemerintah untuk membentuk Kementerian Investasi karena sudah memiliki Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Lembaga Pengelola Investasi. Penulis sependapat dengan Trubus bahwa hal ini dapat menyebabkan tumpang tindih fungsi dan tugas antarlembaga.

Saat ini pun baik siswa sampai mahasiswa masih mengalami yang namanya sekolah berbasis online, menurut pengamatan penulis metode ini memang efektif mengingat kita sedang mengalami musibah pandemi ini tetapi penulis menyayangkan melihat banyaknya siswa atau mahasiswa yang jadi menyepelekan belajar dan bahkan tidak sedikit yang hanya bergabung pada aplikasi virtual lalu sebenarnya mereka tidak benar benar memerhatikan.

Bagi siswa sekolah dasar rasanya miris harus belajar dirumah. Karena pada akhirnya orang tua yang lebih ekstra mengajari bahkan mengerjakan tugas dirumahnya. Selain itu, dari segi psikologis untuk anak sekolah dasar rasanya masih sangat harus sekolah tatap muka. Dan juga bermain bersama teman temannya karena membantu mereka berkembang dalam bersosialisasi sejak dini. Khawatir saat kembali tatap muka mereka tidak tahu caranya bersosialisasi dengan teman sebaya.

Terakhir harapan penulis semoga pandemi ini segera berakhir dan Indonesia menemukan metode terbaik untuk generasi penerus bangsa.

Selamat Hari Pendidikan.

Penulis : Chrisnady Ramadhan (Departemen Sosial ENERGI Bogor)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *