Peran Pemerintah Dalam Membangun Kesadaran Ibu Akan Pentingnya ASI Eksklusif

Guru besar IPB University Mengabdi menemukan kenaikan angka stunting di kota Bogor. Pada tahun 2018 ke 2019, angkanya turun dari 4,8 persen menjadi 4,52 persen. Tetapi, di tahun 2020, angka stunting naik mencapai angka 10,5 persen. Angka tersebut didapat berdasarkan data Bulan Pemantauan Balita di kota Bogor. Ada dua penyebab, yakni rendahnya ASI eksklusif yang diberikan ibu pada anak dan kedua tingginya tingkat anemia Ibu.

Isu ini menarik perhatian penulis karena kasusnya meningkatnya tajam, terutama di masa COVID-19. Sebagai pemahaman, stunting adalah ketidakseimbangan pertumbuhan anak dikarenakan kurangnya nutrisi, infeksi yang berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Menurut WHO, jika anak mengalami pertumbuhan berat badan yang cepat setelah usia dua tahun, maka ada resiko anak tersebut akan mengalami obesitas. Obesitas bisa berimplikasi pada penyakit jantung.

Dalam RPJMD kota Bogor, Visi Bogor erat kaitannya dengan keluarga, dimana keluarga memiliki peran sentral dalam pembangunan peradaban. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk manusia karena disitulah diletakkan nilai-nilai dasar termasuk menerapkan pola hidup sehat. Kota yang sehat berawal dari lingkungan keluarga yang sehat. Oleh karenanya, salah satu misi kota Bogor adalah mewujudkan kota yang sehat. Kesimpulannya, keluarga adalah fundamental.

Mengkaji Penyebab.

Jika melihat penyebab yang disebutkan dalam penelitian diatas, penyebab kedua memiliki hasil yang tidak menentu dalam beberapa penelitian. Ada yang menganggap bahwa tidak ada hubungan antara tingkat anemia dengan kandungan ASI bayi, namun ada juga korelasi antara kedua hal tersebut. Ada beberapa faktor lagi selain anemia, yakni frekuensi dan durasi pemberian ASI kepada bayi. Selain itu, tingkat anemia belum tentu memengaruhi status gizi bayi.

Penyebab pertama ini bisa dijelaskan lebih lanjut. Ada beberapa faktor yang membuat asupan ASI eksklusif pada bayi rendah. Pertama, rendahnya tingkat pendidikan yang dianggap masih menjadi faktor juga. Kedua, status ibu, apakah hanya menjadi ibu rumah tangga atau mereka bekerja. Ibu yang bekerja jarang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dikarenakan waktu yang terbatas, sehingga durasinya berkurang. Ada kemungkinan mereka membantu suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ataupun orang tua tunggal. Ketiga, jika berbicara rentang usia, usia dibawah 20 tahun masih belum matang dan dewasa.

Peran Pemerintah

Ibu adalah cerminan apakah bayi yang diasuhnya sehat atau tidak. Peran Ibu dalam pemberian ASI eksklusif sangat penting karena punya manfaat yang besar bagi tumbuh kembangnya anak. Ditambah lagi, pada masa 0-2 tahun merupakan waktu yang krusial bagi para bayi. ASI memberikan nutrisi seperti protein dan lemak kepada bayi. Selain itu, ASI membantu membentuk antibodi pada si Bayi itu sendiri agar terhindar dari berbagai macam penyakit seperti penyakit gula, obesitas, tekanan darah tinggi, dan kolestrol di masa depan nanti

Melihat situasi itu dan menyadari betapa pentingnya isu ASI, Pemerintah bisa membantu memacu kesadaran pada Ibu tentang pentingnya ASI. Pemerintah bisa melakukannya dengan mengamanahkan dinas kesehatan untuk memberikan program edukasi pada Ibu baik itu di Puskesmas dan kebidanan. Tetapi, Posyandu punya posisi unik karena mereka fleksibel dalam membuat sebuah program. Tiga institusi ini bisa digerakkan agar semakin mudah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat di akar rumput. Kuncinya disini adalah pendekatan dan solusi yang spesifik dan tergantung karakteristik orang. Peran itulah yang bisa dipegang oleh Puskesmas, Posyandu, dan Kebidanan. Selain itu, kabar baiknya, ekosistem untuk penurunan stunting sudah ada. Kota Bogor saat ini menjadi pilot project bagi percepatan penurunan stunting.

Lalu, pemerintah bisa berkolaborasi dengan Taleus (Tanggap Leungitkeun Stunting), sebuah gerakan yang memberikan edukasi kepada masyarakat melalui upaya penurunan angka anemia pada remaja putri dan juga edukasi tentang 1000 hari pertama kehidupan (HPK) si kecil. Pemerintah membangun sistem, tapi kelemahannya adalah birokrasi yang lama. Komunitas bekerja di luar sistem dan tidak ada sekat hierarkis. Kolaborasi antara pemerintah dan komunitas nantinya bisa mempercepat penurunan stunting agar kota Bogor menjadi kota yang sehat.

Daftar Pustaka

Saptyaningtiyas, N., & Kusumastuti, A. C. (2013). HUBUNGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 7-12 BULAN. Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 4, 713-719.

Setiyani, L., & Kusumastuti, A. C. (2013). HUBUNGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU MENYUSUI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 0-6 BULAN. Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 4, 608-614.

Penulis adalah Rizky Ridho Pratomo, analis kebijakan publik di ENERGI Bogor.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *