Dinamika Pengelolaan Sampah di Kota Bogor

Oleh Aditya Eka Sasmita

Departemen Media ENERGI Bogor


Layaknya kota-kota lainnya, permasalahan pengelolaan sampah di Kota Bogor juga tak luput menjadi perhatian pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari dinamika perwujudkan operasional pengelolaan sampah sampai manajemen keuangan dan sosio-kultural. Seperti yang kita ketahui dampak berbahaya apabila kurangnya pengelolaan sampah yang baik dapat berimbas pada sektor lingkungan yang tak jarang dapat menimbulkan bencana seperti banjir dan tersumbatnya saluran sanitasi sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi masyarakat sekitar.

Hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membuang sampah di tempat yang benar sekaligus pengetahuan mengenai pengelolaan sampah yang baik.

Ada 3 tahapan mudah dalam pengelolaan sampah diantaranya :

Pertama, pemisahan jenis sampah antara organik dan anorganik. 

Kedua, kumpulkan dan berikan kepada pusat daur ulang karena sampah yang berbahaya seperti elektronik bekas yang dapat membahayakan lingkungan

dan Ketiga, diet sampah plastik atau barang sekali pakai.

Disamping hal tersebut, pentingnya peranan pemerintah yang secara efektif mengelola sampah di Kotanya juga tidak luput menjadi perhatian utama. Seperti layaknya Pemerintah Kota Bogor, melalui laman informasi sanitasi Kota Bogor di sanitasi.kotabogor.go.id, Pemkot menyatakan bahwa, pengelolaan sampah merupakan sistem yang terkait dengan dengan banyak pihak, mulai dari penghasil sampah (seperti rumah tangga, pasar, institusi, industri, dll), pengelola (kontraktor), pembuat peraturan, sektor informal, maupun masyarakat yang terkena dampak pengelolaan sampah tersebut sehingga penyelesaian nyapun membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan keterlibatan semua pihak yang terkait.

Kebijakan peningkatan pengelolaan sampah, dilakukan dengan strategi:

  • Mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu;
  • Meningkatkan penanganan dan pengurangan sampah; dan
  • Meningkatkan partisipasi masyarakat, perguruan tinggi dan swasta dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan

Teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri dari kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Mekanisme penanganan sampah di Kota Bogor dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

  1. Mekanisme penanganan sampah di lingkungan pemukiman, setelah masyarakat melakukan pemilahan dan pewadahan, sampah dikumpulkan oleh petugas yang dibentuk oleh swadaya masyarakat menuju ke TPS terdekat. Sampah yang telah terkumpul di TPS kemudian diangkut oleh armada pengangkut sampah dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Bidang Kebersihan.
  2. Mekanisme penanganan sampah di daerah umum (taman, jalan protokol, jalan kolektor). Penanganan sampah di daerah umum dan seperti taman kota, jalan protokol dan jalan kolektor dilakukan oleh petugas penyapuan. Hasil penyapuan diangkut dengan motor atau pick up untuk dikumpulkan di TPS terdekat atau langsung di bawa ke Pool (Dinas Kebersihan dan Pertamanan).
  3. Mekanisme   penanganan   sampah   pasar,   terminal   dan   pusat   perkantoran. Sampah terminal, dan pusat perkantoran ditangani oleh unit pengelola yang bersangkutan sampai proses pengumpulan di TPS/Container. Sejak tahun 2006 pengelolaan sampah pasar telah dikelola oleh PD Pasar Jaya (diserahkan   kepada   Pihak   ke   III) untuk meningkatkan partisipatif masyarakat atau para pedagang. Untuk proses pengangkutannya ke TPA dilakukan oleh Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Pentingnya peranan pemerintah dapat di cerminkan dari kebijakan Walikota Bogor , Bima Arya yang mempunyai strategi jitu untuk dapat mengatasi permasalhan isu sampah di Kota Bogor yaitu menjalin kerjasama dengan Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin, yang keduanya telah berdiskusi terkait dua tempat pengolahan sampah, yakni Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut-Nambo, Kecamatan Klapanunggal dan Tempat Penampungan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang.

Hal ini diharapkan Pemkot dan Pemkab yang secara wilayah berdekatan dapat menjalin kerjasama yang harmonis demi membereskan isu permasalahan sampah di masing-masing wilayah. TPA Galuga direncanakan menjadi tempat pengolahan sampah plastik menjadi biodiesel. Sedangkan, TPPAS Lulut-Nambo akan dijadikan tempat pengolahan sampah mengubah sampah menjadi refused derived fuel (RDF) atau pengganti baru bara.

Bima menjelaskan, Pemkot Bogor masih memiliki lahan seluas 38 hektar di TPA Galuga. Sedangkan, Pemkab Bogor hanya memiliki lahan seluas empat hektare. Karena itu, Bima menyatakan, ingin melakukan kerja sama dengan Kabupaten Bogor untuk memaksimalkan Galuga. Sehingga, pengolaan sampah di tempat tersebut dapat dijalankan bersama.

Selain itu, Pemkot Bogor juga bekerjasama dengan pemerintah provinsi untuk mengelola sampah di TPST Nambo agar terciptanya keharmonisan sektor pemerintah yang dapat mewujudkan pengelolaan sampah perkotaan dengan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan rencana anggaran 12 miliar dari Pemkot Bogor sebagai kompensasi atau tipping fee ke TPST Nambo, untuk dapat menampung 500 ton sampah/hari dari Kota Bogor.

Oleh karena itu pentingnya kesadaran seluruh elemen masyarakat dan pemerintah akan pengelolaan sampah yang baik dapat memperbaiki keadaan lingkungan hidup sekarang dan dapat membantu menjaga keadaan lingkungan di masa yang akan datang.

Referensi :

https://sanitasi.kotabogor.go.id/profil/post/single/8-persampahan.html

https://www.republika.co.id/berita/q5ugrf396/soal-pengelolaan-sampah-bogor-ini-kerja-sama-bima-dan-ade

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *