Tugu Kujang Kota Bogor

Pandemi dan Hari Jadi Kota Bogor: Pentingnya Resiliensi Terhadap Wabah Penyakit di Tingkat Kota

Oleh: Arif Sulistyo | Editor: Chairul Fajar

Di tengah situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi COVID-19, Kota Bogor merayakan hari jadinya ke-538. Hari jadi Kota Bogor yang selalu dimeriahkan oleh seluruh elemen Kota digantikan dengan gelombang semangat dan ucapan solidaritas warga Kota Bogor di media sosial. Tradisi tahunan ‘Ngumbah Tugu Kujang’ atau mencuci Tugu Kujang sementara waktu digantikan dengan menjaga diri dan sesama dari rumah masing-masing. Meski terpaksa mengisolasi diri di dalam rumah, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme warga Kota Bogor menyambut hari jadi kota Bogor ke-538 di media digital.

Kota Bogor sudah lekat akan identitasnya sebagai kota penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Dahulu Bogor dikenal sebagai ‘Buitenzorg’ yang secara harfiah berarti tempat peristirahatan para pejabat di era kolonial Hindia-Belanda. Sejak penobatan Prabu Siliwangi di tahun 1482, Kota Bogor turut memiliki fungsi strategis dalam kerajaan Pajajaran. Kala itu Pakuan (Bogor di masa kini) diyakini sebagai ibukota Kerajaan Pajajaran berdasarkan bukti-bukti pada Prasasti Batu Tulis.

Lantas, dalam momentum hari jadi Kota Bogor, apa yang paling melekat dibenak anda tentang kota ini? Dewasa ini Kota Bogor telah mampu menciptakan identitas kota bukan sebagai hinterland (Kota Penyangga) untuk Ibukota Jakarta. Modernisasi Kota Bogor sudah memandu tujuan membentuk identitas kotanya menuju Kota Cerdas (Smart City), Kota Hijau (Green City), dan Kota Pusaka (Heritage City). Prestasi yang telah diraih Kota Bogor ini berhasil mendapatkan pujian dan beragam penghargaan tingkat nasional maupun internasional turut berkontribusi dalam membentuk identitas Kota Bogor.

Namun dibalik semua gemerlap kesuksesan itu, terdapat satu bagian yang mesti diperhatikan lebih mendalam. Penulis juga merasa bagian ini dapat ditemukan di kota besar lainnya di Indonesia, yakni penyusunan strategi resiliensi terhadap wabah penyakit/pandemi. Semenjak virus ini merembak di Wuhan pada 2019 yang secara resmi dinyatakan sebagai pandemi global oleh WHO Maret 2020, banyak negara menganggap remeh dan tidak memiliki persiapan yang mumpuni.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terbilang abai akan kesiap-siagaan penanganan pandemi dalam skala besar, terlebih bagi pemimpin daerah seperti gubernur maupun walikota. Pemerintah dianggap gagal membuat keputusan penanganan yang belum jelas. Setelah kurang lebih 3 bulan masyarakat Indonesia menerapkan PSBB, per-hari ini (17/6/20) kasus positif COVID-19 di Indonesia sudah menyentuh angka 41.431 kasus, peringkat pertama di ASEAN dalam jumlah pasien positif virus Corona.

Lalu apa urgensi penulis dengan menciptakan kerangka resiliensi terhadap wabah penyakit/pandemi untuk Kota besar di Indonesia? Di abad ke-21, kota semakin menghadapi banyak kesulitan dan tantangan, dari efek perubahan iklim, pertumbuhan populasi, infrastruktur, pandemi hingga serangan siber. Resiliensi adalah upaya yang dapat membantu kota beradaptasi dan bertransformasi dalam menghadapi tantangan-tantangan ini untuk membantu mempersiapkan diri. Solusi yang penulis tawarkan berdasarkan ‘Handbook: How to Make Cities More Resilient for Local Government Leaders” yang disusun UN Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR), adalah dengan memperhatikan 10 hal penting yang diharapkan dapat diadopsi oleh pemerintah Kota Bogor, diantaranya;

  1. Kerangka Kerja Institusi dan Administrasi
  2. Pendanaan dan Sumber Daya
  3. Penaksiran Risiko Aneka-Bahaya – Ketahui Risiko
  4. Perlindungan Infrastruktur, Peningkatan dan Ketahanan
  5. Melindungi Fasilitas Vital: Pendidikan dan Kesehatan
  6. Peraturan Bangunan dan Perencanaan Penggunaan Lahan
  7. Pelatihan, Pendidikan dan Kesadaran Publik
  8. Perlindungan Lingkungan dan Penguatan Ekosistem
  9. Kesiapsiagaan yang Efektif, Peringatan Dini, dan Respons
  10. Pemulihan dan Membangun Kembali Komunitas

Poin diatas tidak secara spesifik berhubungan langsung dengan inti permasalahan yaitu wabah pandemi, namun 10 poin pokok diatas dapat merangkum beberapa aspek yang berpotensi jadi ancaman untuk kota dalam bidang ekonomi, keamanan, sosial, budaya, lingkungan dan juga kesehatan. Apabila Bogor kedepannya mampu merangkul seluruh elemen masyarakat yang berasal dari komunitas, institusi, aktor bisnis, dan jajaran pemeritahan pendukung dalam mengonsepkan suatu kerangka resiliensi ancaman kota, maka Kota Bogor akan menjadi pionir bagi lota lain di Indonesia.

Kota Bogor dapat menjadi pandu bagi Kota lain dalam menyusun suatu kerangka resiliensi tingkat Kota dari berbagai ancaman yang mengancam aset-aset Kota. Dibutuhkan proses panjang yang didukung dengan kajian mendalam guna menyukseskan ide di atas mengingat Pemerintah Kota Bogor tidak berkerja sendiri melainkan didukung dan terus dikawal oleh masyarakat guna memberikan yang terbaik baik bagi warga Kota Bogor.

Selamat Hari Jadi Kota Bogor ke-538

Bogor Berlari!

Referensi:

How To Make Cities More Resilient A Handbook For Local Government Leaders UNISDR https://www.unisdr.org/files/26462_handbookfinalonlineversion.pdf

Kota Bogor dalam Tarik Menarik Kekuatan Lokal dan Regional AD Tohjiwa, S Soetomo, JA Sjahbana, E Purwanto Seminar Nasional Riset Arsitektur dan Perencanaan (SERAP) 1 Kota Bogor Provinsi Jawa Barat https://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1058

“Lewati Singapura, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini Terbanyak di ASEAN”, Penulis : Vina Fadhrotul Mukaromah Editor : Rizal Setyo Nugroho

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *