Program Kelurahan Bersih Dari Narkoba (BERSINAR)

Memperingati Hari Anti-Narkoba Internasional dan Penyalahgunaan Narkoba oleh Anak-anak di Kota Bogor

Oleh: Esa Satria Palayukan (Departemen Think-tank) | Editor: Chairul Fajar

Narkoba sering menjadi perdebatan terkait “pergeseran” penggunaannya yang kerap kali mengakibatkan sejumlah konsekuensi-dampak ibarat dua mata pisau dimana ada kegunaan dan membahayakan. Obat-obatan seperti Morfin memang dikategorikan sebagai “painkiller” dalam istilah medis yang berguna bagi dunia kedokteran. Namun tak dapat dipungkiri narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya juga lazim kita dengar penyalahgunaannya oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Narkoba seringkali jadi ladang bisnis instan yang menggiurkan, sehingga banyak masyarakat terjerumus dalam pusaran narkoba ini dari sebagai bandar, pengedar, ataupun hanya pengguna. Ekonomi jadi satu alasan paling menonjol dari alasan bisnis narkoba. Latar belakang ekonomi yang buruk ditambah pemakaian narkoba memberikan efek halusinasi yang dianggap sangat menyenangkan bagi pecandunya. Banyak orang menilai narkoba merupakan cara instan dalam mendapatkan uang dengan banyak menjaring masyarakat untuk terjun dalam praktik peredaran narkoba.

Di dalam struktur sosial masyarakat narkoba menyasar berbagai kalangan dari orang dewasa, remaja, dan bahkan anak-anak. Mirisnya ketika anak-anak kecil yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak di usianya, bermain dengan riang layaknya anak-anak seusianya justru harus berkutat dengan narkoba. Tak jarang anak-anak kecil yang bekerja di jalanan kerap menggunakan zat berbahaya hanya untuk merasakan kesenangan, sensasi, halusinasi, dan delusi seperti jamak ditemukan dengan menghisap lem perekat di samping penggunaan ganja, shabu, dan jenis narkoba lainnya. Tercatat ada sekitar 5,9 juta orang kalangan anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pecandu narkoba (Damayanti, 2018).

Narkoba menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia, khususnya di Kota Bogor. Menurut data dari BNN Kabupaten Bogor, tercatat ada sekitar 900 ribu orang baik di Kota maupun di Kabupaten Bogor yang terlibat praktik narkoba didominasi oleh pekerja, pelajar dan warga kelas menengah (Yosep, 2018).

Faktor ekonomi dan geografis Bogor sebagai daerah penyangga dekat Jakarta membuat peredaran narkoba di Bogor menjadi sangat masif. Kesenjangan ekonomi menjadi sebuah alasan ‘klasik’ melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Berangkat dari faktor ini pendidikan masih belum dicapai dan dinikmati oleh kalangan pelajar dan anak-anak di Indonesia khususnya di Kota Bogor. Masyarakat dinilai perlu ikut serta berkontribusi mendidik anak-anak yang kurang beruntung tentang perbuatan baik-buruk dan bahaya narkoba agar tidak terjerumus.

Peran pemerintah juga dinilai cukup krusial dalam menguatkan kontribusi masyarakat di paragraf sebelumnya. Di Kota Bogor program mengenai pengentasan narkoba dicanangkan melalui Program Kelurahan BERSINAR (Bersih dari Narkoba) bekerjasama dengan BNN. Program itu mengikutsertakan sekitar 68 Kelurahan di Kota Bogor sebagai langkah awal untuk diterapkan pada kelurahan lain (Bogor, 2019). Program BERSINAR meliputi pelatihan, pembinaan, dan penyuluhan bahaya narkoba juga menjadi bagian dari program ini untuk menekan angka pengguna narkoba di Kota Bogor.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menekan angka penyalahgunaan narkoba baik secara makro maupun mikro. Selain dengan penyuluhan, BNN dalam langkah Pencegahan dan Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) melakukan berbagai cara untuk menumpas narkoba di Indonesia yang bisa diterapkan di Kota Bogor (BNN, 2019), seperti :

  1. Pemiskinan Bandar Narkoba
  2. Program BERSINAR
  3. Program Pembangunan Berwawasan Anti Narkoba dengan melibatkan stakeholder pemerintah dan juga melibatkan masyarakat dalam penyuluhan bahaya narkoba.
  4. Melakukan kampanye anti narkoba melalui REAN.ID dimana dalam program ini masyarakat dilibatkan untuk mengambil peran dalam kampanye pencegahan narkoba.
  5. Rehabilitasi bagi para pengguna narkoba untuk kemudian dilatih agar kedepannya menjadi bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat

Keseluruh program tersebut melibatkan elemen masyarakat dalam pemberantasan narkoba. Edukasi akan bahaya narkoba menjadi tugas bersama baik masyarakat ataupun pemerintah sebagai upaya P4GN.  Tentunya sebagai rakyat yang sadar akan bahaya narkoba, kita perlu ikut andil untuk mengedukasi masyarakat tentang dampak narkotika khususnya bagi anak-anak guna mencegah terjerumusnya mereka ke dalam lubang jeratan narkoba. Diharapkan ke depannya program pemerintah sejenis menjadi komitmen jangka panjang dan bukan euforia semata melainkan terus berkesinambungan dengan bersinergi bersama lembaga terkait untuk menjadikan masyarakat cerdas dan sejahtera sesuai dengan tujuan cita-cita bangsa Indonesia.

 References

BNN. (2019). Press Release Akhir Tahun : Jadikan Narkoba Musuh Kita Bersama! Jakarta: Badan Narkotika Nasional.

Bogor, P. K. (2019, August 07). 68 Kelurahan Siap Deklarasi Kelurahan Bersih Dari Narkoba. Retrieved from kotabogor.go.id: https://kotabogor.go.id/index.php/show_post/detail/12804/#.XvGEB3kxerE

Damayanti, A. U. (2018, March 06). 5,9 Juta Anak Indonesia Jadi Pecandu Narkoba. Retrieved from Okezone.com: https://nasional.okezone.com/read/2018/03/06/337/1868702/5-9-juta-anak-di-indonesia-jadi-pecandu-narkoba

Yosep. (2018, December 07). BNN : 900 Ribu Warga Bogor Pecandu Narkoba, Didominasi Pekerja dan Pelajar. Retrieved from Radar Bogor: https://www.radarbogor.id/2018/12/07/bnn-900-ribu-warga-bogor-pecandu-narkoba-didominasi-pekerja-dan-pelajar/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *