Taman Heulang, Kota Bogor | Sumber: www.ayobogor.com

Memaknai Infrastruktur dan Fasilitas Publik di Kota Bogor dalam Mendukung Perkembangan Sumber Daya Manusia

Oleh: Arif Sulistyo (Vice President of ENERGI Bogor) | Editor: Chairul Fajar

Kota merupakan ‘jantung peradaban manusia modern’ yang diasosiasikan sebagai pusat perekonomian domestik-global. Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, perkotaan adalah wilayah yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian1. Kota juga berfungsi sebagai pusat administrasi pemeritahan, wilayah pemukiman, perkembangan teknologi dan pendidikan, majunya infrastruktur serta moda transportasi. Dengan luas wilayah 11.850 Ha dan dihuni oleh 1 juta penduduk, Bogor telah masuk menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia.

Menyandang status kota metropolitan, memunculkan pertanyaan apakah infrastruktur di Kota Bogor sudah cukup andil memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana warganya? Bidang infrastruktur amat krusial mengingat manfaatnya bagi warga kota agar dapat menikmati sarana dan prasana yang sudah menjadi haknya. Selain itu kelayakan infrastruktur dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dapat menjadi nilai tambah pemasukan bagi pemerintah kota.

Perlu digaris bawahi, pembangunan dan penyediaan Infrastruktur bukan semata-mata untuk menarik investasi dan pemasukan kota saja. Kehadiran infrastruktur mumpuni juga berpotensi mendongkrak perkembangan sumber daya manusia warganya.  Dalam sebuah jurnal yang berjudul “Smart cities: implications of urban planning for human resource development (2011)” karya Mohan Thite, menjelaskan, wilayah metropolitan akan menjadi tonggak utama dalam membentuk agenda sosial, budaya, teknologi, dan ekonomi dunia. Kondisi global saat ini memaksa kota di berbagai belahan dunia untuk saling berkerjasama dan belajar dari satu sama lain.

Dalam upaya memantaskan diri di panggung persaingan global antar kota-kota di dunia, dibutuhkan pekerja terampil (skilled workers) agar mampu bersanding sejajar dengan kota lainnya. Menarik pekerja terampil dapat memberi pengaruh signifikan bagi suatu kota guna memenuhi kebutuhan infrastruktur pendukung untuk menciptakan atmosfir work – life balance.  Infrastruktur seperti taman, galeri seni dan ruang berkreasi dapat menjadi local-branding sekaligus menjadi ‘magnet’ untuk menarik para pekerja terampil agar menjadikan Kota Bogor sebagai rumah. Penulis melihat Kota Bogor sudah melakukan terobosan baik dengan kehadiran Taman Sempur, Taman Kencana, Taman Heulang dan perbaikan tata kota lainnya.

Meskipun demikian, peranan infrastruktur di Kota Bogor masih terbuka untuk dimaksimalkan lebih jauh. Pemeritah Kota Bogor dapat memaknai konsep dari ‘urban economics’yang sejalan dengan visinya menjadi ‘Smart City’ lebih intensif lagi. Secara ringkas dapat didefiniskan, pada ‘perilaku preferensi kepuasan optimal’ dari perusahaan dan individu dalam memilih lokasi untuk mendirikan perusahaan atau tempat tinggal. Para pencari kerja akan mengikuti lowongan pekerjaan yang terpusat, contohnya seperti Jakarta. Dari berbagai penjuru di Indonesia, para pencari pekerja akan mencari pekerjaan yang sifatnya terpusat dan berjumlah banyak. Konsep ini dapat diadopsi Kota Bogor dengan dibangunnya Kawasan Central Business District (CBD). Terlebih para pencari pekerja memiliki tendensi pergi ke lokasi untuk bergabung dengan orang lain dengan keterampilan yang sama sehingga membentuk komunitas dengan individu dan keluarga yang berpikiran serupa, sama halnya dengan perusahaan yang memiliki pola pikir yang sejenis demi mendapatkan para pekerja tersebut.

Satu kawasan CBD berpotensi memberi perusahaan akses ke lebih banyak pemasok dan layanan dukungan khusus, pemusatan tenaga kerja berpengalaman dan terampil serta menjadi wadah ilmu yang tidak terhindarkan ketika orang bertemu dan berbicara serta bersosialisasi tentang bisnis. Inovasi teknologi dan kreatifitas berasal dari area dimana perusahaan dikelompokkan bersama, area yang selalu berkutat dengan pembahasan seputar pengembangan produk dan gagasan ide. Daerah terkenal di dunia dengan contoh diatas seperti halnya, Silicon Valley-nya Amerika Serikat.

Terakhir, perlu diapresiasi kembali langkah Pemerintah Kota Bogor menuju ‘smart city’, tetapi sebuah konsep baru yang digagas oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) dan the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 1996 dapat menjadi pertimbangan, yaitu ‘learning cities’. Indikator learning cities sangat mudah untuk diimplementasi, terdapat dua kunci utama, meskipun hanya dua namun memiliki dampak sosial yang signifikan dalam jangka panjang. Pertama ialah kemampuan masyarakat untuk belajar membangun dan mempertahankan kemitraan di dalam dan di semua sektor masyarakat, kedua untuk mendorong partisipasi semua anggota masyarakat, termasuk yang tidak beruntung / golongan PPKS. Hal ini dikarenakan, apabila pemerintah Kota tidak satu pemikiran dengan masyarakatnya dalam usaha meningkatkan kesejahteraan melalui pembagunan infrastruktur kota, maka akan sulit merealisasikan upaya Bogor menuju Kota ‘Smart City’.

Sumber

  1. Gischa, Serafica. (2020) “Kota: Pengertian, Klasifikasi, Ciri, dan Fungsinya”
https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/20/190000069/kota–pengertian-klasifikasi-ciri-dan-fungsinya?page=all
  • Thite, Mohan. (2011). Smart cities: implications of urban planning for human resource development. Human Resource Development International, 14:5, 623-631

*Sumber gambar: www.ayobogor.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *