Kota Bogor Mereda, Bisakah Turun Level?

Kota Bogor Mereda, Bisakah Turun Level? 

Kasus COVID-19 di kota Bogor mereda. Menurut penuturan Walikota, dalam satu pekan terakhir, terdapat penurunan kasus menjadi rata-rata 100 per hari. 

Namun begitu, pelaksanaan PPKM yang lama dan tak kunjung selesai berimbas tidak hanya pada sektor ekonomi. Akan tetapi, semua pihak kompak bergotong royong membantu warga yang terdampak. Beberapa hari lalu, kota Bogor mendapatkan berbagai bantuan mulai dari 200 paket sembako dari Jabar bergerak, 200 paket sembako dari Blibli ditambah 400 voucher belanja, 5.000 hand sanitizer dari berbagai pihak (PT. Unilever, Klikdokter,dan BKKBN) dan masih banyak lagi bantuan yang mengalir. 

Dari perkembangan situasi ini, tentu masyarakat mendapatkan secarik nafas untuk bertahan di kala PPKM masih diberlakukan. Walikota Bima Arya berharap adanya penurunan level karena dari berbagai sisi, kasus menurun, keterisian bed menurun, dan kasus kematian menurun. Tentu, hal ini patut disyukuri karena kota Bogor telah melalui badai yang dahsyat. 

Sebelumnya, bulan lalu, kota Bogor mengalami kelangkaan logistik kesehatan. Ditakutkan, apabila tren kelangkaan terus berlanjut, akan berdampak pada banyak warga. Menurut Ketua Pusat Logistik COVID-19 kota Bogor, Dedie A. Rachim, kelangkaan terjadi karena overdemanding terhadap obat-obatan. Kondisi ini membuat oknum tertentu berusaha menaikkan harga obat di tengah lesunya ekonomi masyarakat. Trennya seperti tahun lalu dimana masker diborong habis-habisan sehingga harganya jadi mahal dan harus dibatasi pembeliannya. Itu yang terjadi pada susu bear brand

Seperti yang dilansir di Kompas, diketahui harga jual produk susu berlambangkan beruang ini melonjak cukup tinggi pada Juli lalu, dengan harga jual satuan yang sebelumnya berkisar Rp 8000 – Rp 10.000 per kaleng menjadi Rp 15.000- Rp 17.000 per kaleng seiring banyaknya permintaan di pasaran. Masyarakat dengan naluri bertahan hidupnya berbondong-bondong membeli sejumlah produk susu tersebut yang mengakibatkan kelangkaan dikarenakan overdemanding pun terjadi. Padahal menurut beberapa pakar kesehatan, semua produk susu tidak jauh berbeda kualitasnya asal tetap memenuhi gizi dan kebutuhan nutrisi bagi tubuh. 

Namun, dengan kondisi saat ini, tentu kelangkaan logistik kesehatan bisa dikendalikan. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri, PPKM membuat mobilitas masyarakat terganggu, sehingga mereka yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan tak mendapatkan pundi-pundi uang. Contohnya banyak pekerja sektor non formal yang banting tulang tetap bekerja di tengah wabah yang sewaktu-waktu dapat menyerang dirinya. Hal ini menjadi pilihan mutlak para pekerja dibandingkan harus mati kelaparan. . 

Guna mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Bogor mencoba menekan kegiatan masyarakat dengan menerapkan kebijakan pembatasan pada tiap pos masuk Kota Bogor. Selain itu merespon PPKM Level 4 yang dicanangkan Pemerintah Pusat, dengan menerapkan format kebijakan Ganjil-Genap untuk kendaraan bermotor melalui skema penguatan 3 T yaitu Testing, Tracing, dan Treatment. Dimana sebanyak 8.034 kendaraan bermotor harus terpaksa diputar bailk pada hari pertama pemberlakuan kebijakan tersebut. Hal ini dilakukan demi menurunkan mobilitas masyarakat untuk mencegah penularan virus yang tak terkendali dan menekan angka positif masyarakat yang terdampak COVID-19. 

Sebelumnya Kota Bogor diketahui sempat menyandang status zona hitam dikarenakan gejolak tinggi pasien positif yang dialami warga Bogor. Namun hingga saat ini status tersebut sudah mulai menurun seiring diperketatnya pembatasan pada tiap titik serta berlakunya kebijakan ganjil genap. Hanya saja kebijakan ini memang mempengaruhi mobilitas masyarakat, tetapi dalam hal pencegahan serta penanganan pasien terdampak COVID masih perlu diupayakan dengan maksimal berupa protokol kesehatan yang perlu diterapkan oleh semua masyarakat khususnya di Kota Bogor. 

Terkait program vaksinasi massal, tingkat pencapaian vaksinasi di Kota Bogor baru mencapai 30% dilansir dinas Kesehatan Kota Bogor, sebanyak 130.000 warga sudah di vaksin dimana target selanjutnya sebanyak 250.000 warga akan turut di vaksin. Menurut Walikota Bogor, Bima Arya diharapkan vaksinasi warga Kota Bogor akan tuntas September mendatang dan hingga saat ini akan terus dilakukan percepatan dalam kegiatan vaksinasi untuk warga. Tentunya vaksin ini bertujuan untuk memperkuat imunitas warga agar tidak rentan terserang virus 

Namun yang menjadi garis bawah adalah dalam kondisi saat ini vaksin bukan serta merta membuat kebal terhadap virus dan bebas melakukan apapun. Kesehatan tiap manusia ditentukan oleh pola hidup manusia itu sendiri. Protokol Kesehatan tetap mesti dijalankan dimanapun dan kapanpun karena penyebaran virus ini sangat mudah walaupun terjadi kontak yang sangat minim. 

Selain itu Pemerintah Kota Bogor juga tetap harus melakukan sosialisasi dan screening secara berkala terkait vaksinasi dan berbagai pencegahan penularan COVID-19. Tak hanya itu saja, permasalahan ekonomi pun tentunya tak bisa diabaikan oleh Pemkot Bogor, dimana mobilitas yang terhambat menimbulkan konsekuensi berupa efek domino bagi keberlangsungan roda perekonomian. Diharapkan Pemkot bisa menimbang keputusan yang paling baik dari yang terbaik dalam mengatasi dampak wabah ini agar masyarakat tidak kehilangan jati diri dasar sebagai manusia dan tentunya kepercayaan penuh pada pemerintah. 

Apakah PPKM gelombang sekarang bisa membuat kita Bogor menjadi level tiga? 

Penulis: Esa Satria Palayukan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *