Kegamangan Dunia Menghadapi Covid-19

Oleh: Chairul Fajar*

Pandemi Covid-19 semakin meluas di tataran global maupun nasional. Sejak ditemukan di kota Wuhan akhir 2019 lalu, secara cepat virus ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia yang memakan korban lebih banyak. Belakangan ini beberapa kawasan seperti Eropa (Spanyol, Italia, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia) dan AS turut terkena karenanya.

Sampai saat tulisan ini dibuat (31 Maret 2020) berdasarkan dari data John Hopkins University tercatat terdapat 787,000 kasus di seluruh dunia meliputi Indonesia dengan jumlah sebanyak 1,414 kasus. Angka ini menjadikannya sebagai bencana internasional yang menyita perhatian serius dari masyarakat internasional dalam penanganannya. Seluruh pihak kini tengah berjuang menghadapi pandemi ini melalui berbagai upaya yang dilakukan menunjukan betapa ketatnya kompetisi antara manusia melawan Covid-19.

Harus diakui kompetisi “manusia vs Covid-19” ini pada awalnya diselimuti ketidakpastian. Ini sangat terlihat jelas dari perbedaan negara-negara dalam pengambilan langkah strategi kebijakannya dari yang sigap, hati-hati, tergesa-gesa, kurang cermat hingga gambling. Bahkan negara-negara yang diharapkan mampu merespon dengan sigap seperti AS dengan kemajuan kemajuan medis dan industri farmasinya justru malah menunjukan ketidaksiapan dan cenderung melihatnya sebagai bukan ancaman serius.

Serupa dengan AS, Inggris juga memperlihatkan sikap demikian. Ketika negara-negara di kawasan mulai mempertimbangan hingga menerapkan opsi lockdown, Inggris masih belum melakukan hal tersebut. Nyatanya keterlambatan Inggris ini diakibatkan perseteruan pandangan para elit-elit politiknya dalam menyikapi strategi kebijakan menghadapi Covid-19. Justru bagi sebagian kalangan di sana opsi lockdown dinilai akan membatasi kebebasan warga negara yang dianggap bertentangan dengan prinsip dasar nilai-nilai freedom.

Tetapi nampaknya para elite dan pemimpin AS-Inggris mulai menyadari betapa seriusnya penanganan Covid-19 ini. Melonjaknya korban Covid-19 di AS telah mendorong Trump dan pemerintahannya untuk menaruh prioritas kesehatan sebagai agenda utama saat ini. Meski demikian setidaknya sejauh ini Trump telah memberlakukan kebijakan social distancing nasional guna meredam penyebaran Covid-19 yang di beberapa negara bagiannya malah disertai karantina wilayah.

Di lain pihak Indonesia masih terlihat ketidakpastian kebijakan menyikapi Covid-19 pasca teridentifikasinya temuan pertama Covid-19 di penghujung Februari lalu. Ketidaksiapan para pemangku otoritas menghadapi temuan itu bahkan diperparah dengan ketidakkompakan pemerintah pusat dan daerah. Hal ini justru semakin meningkatkan kecemasan kolektif yang memperumit pengambilan keputusan strategis bersamaan eskalasi jumlah temuan kasus.

Guna mengatasi hal tersebut baru-baru ini pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setidaknya langkah tersebut turut diperkuat dengan aturan pelarangan masuk WNA. Kebijakan tersebut patut diapresiasi mengingat kebutuhan akan landasan kepastian bertindak dalam situasi ini amatlah penting. Tetapi langkah tersebut perlu disertai dengan komitmen dan kekompakan seluruh pemangku otoritas pemerintah pusat dan daerah agar tercapai keselarasan kebijakan.

Hal menarik justru ditunjukan Taiwan yang amat sigap menghadapi ancaman Covid-19. Per Desember 2019 pemerintah Taiwan telah menaruh perhatian serius terhadap isu ‘penyakit baru’ tersebut sebelum menjadi pemberitaan media massa. Perhatian ini segera diikuti langkah cepat dengan membatasi penerbangan dari dan ke kawasan China daratan. Hal ini turut diperkuat dengan mengetatkan border control lewat sistem terintegrasi melibatkan imigrasi, asuransi dan instansi kesehatan didukung penerapan big data.

Hasilnya integrasi birokrasi dan stakeholder ini menunjukan bahwa Taiwan telah benar-benar memiliki strategi kebijakan efektif dan tepat guna. Bagi Taiwan sebagai negara yang pernah menghadapi kasus outbreak SARS pada 2002-2004 silam memperoleh pelajaran berharga dari itu. Terbukti dari kesigapan pemerintahnya, Taiwan berhasil meminimalisir dan menekan potensi perluasan kasus infeksi terkini (31 Maret 2020) sebanyak 322 kasus. Hal ini tentu menjadi suatu keberhasilan tersendiri mengingat geografis Taiwan-China amat dekat yang semestinya tentu berpotensi paling besar memiliki angka penularan tinggi.

Dari beberapa langkah negara yang telah disebutkan di atas, patut menjadi pelajaran penting bagi kita semua keberhasilan Taiwan dalam mengatasi epidemi Covid-19 sebagai sebuah role model bagi berbagai pihak dalam menyikapi ancaman non-konvensional berupa wabah penyakit. Kesiapan dan kesigapan adalah kunci penting dalam menghadapi wabah epidemi yang mengancam eksistensi bangsa dan peradaban manusia dengan disertai kerjasama solid seluruh umat manusia.

*Penulis adalah sarjana Hubungan Internasional. Profil dapat dilihat di https://linkedin.com/in/chairulfajar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *