Individu Menjadi Sebuah Ancaman Dalam Pandemik Covid-19

Oleh: Rizky Ridho Pratomo*

Pada 12 Maret lalu, WHO mengumumkan covid-19 sebagai sebuah pandemik global. Sebagai respon dari pengumuman ini, banyak Negara yang mengeluarkan kebijakan yang ‘luar biasa’ berupa lockdown nasionaldibarengi dengan stimulus ekonomi. Jerman, misalnya, mengeluarkan 756 milliar dollar, Selandia baru 1,2 milliar dollar, dan masih banyak Negara yang mengeluarkan kebijakan serupa, khususnya di Negara-negara Eropa. Indonesia tidak menerapkan kebijakan lockdown, tapi lebih kepada social atau physical distancing ditambah stimulus ekonomi sebesar 405 triliun.

            Merujuk pada kamus Cambridge, lockdown berarti kebijakan yang tidak memperbolehkan penduduk untuk keluar-masuk sebuah bangunan atau kawasan secara bebas karena keadaan darurat. Artinya, kegiatan yang boleh dilakukan adalah sesuatu yang sifatnya sangat teramat penting, misalnya membeli bahan makanan. Lockdown juga berarti karantina wilayah. Jadi, istilah ini sebenarnya sama, cuma berbeda saja bahasanya.

            Social distancing adalah kebijakan berupa pembatasan aktivitas-aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang. Misalnya, kita tidak boleh pergi berpesta atau ke konser musik karena dua aktivitas itulah banyak orang berkumpul. Karena alasan ini, banyak musisi yang membatalkan acara manggungnya dan ada himbauan agar acara menikah dilaksanakan secara sederhana tanpa resepsi.

            Physical distancing beda dengan social distancing. Istilah terakhir ini sering dikaitkan dengan jaga jarak ketika berbicara. Itu bukan ranahnya social distancing. Social distancing lebih kepada membatasi interaksi ke banyak orang. Tapi, bukan berarti kita tidak boleh bersosialisasi. Hanya saja, ketika kita bersosialisasi, memperhatikan jarak menjadi esensial. Itulah yang namanya physical distancing. Secara sederhana, kita menjaga jarak batas tertentu dengan orang lain.

            Ketika kita bicara soal physical distancing, social distancing sampai lockdown, kebijakan ini fokusnya kepada individu. Penyebaran coronavirus ini dari orang ke orang, sehingga ketika kita berinteraksi seperti biasa, ancamannya jadi lebih besar. Oleh karenanya, kebijakan seperti ini diberlakukan guna mencegah penyebarannya. Dan itu kita lakukan saat ini.

            Universitas Imperial College London membuat sebuah model menarik. Mereka memproyeksikan, jika UK tidak melakukan apapun, 510ribu orang bisa meninggal. Kalau UK mengisolasi yang terdampak virus, menurun menjadi 250rb. Sedangkan, jika melakukan kebijakan menutup tempat umum, mengurangi kontak sosial, menjadi 20ribu. Artinya, tiga kebijakan diatas saling mendukung satu sama lain.

            Berarti, kalau membaca data ini, dengan memandang individu sebagai ancaman adalah cara kita untuk selamat. Dengan kita mengisolasi diri, kita menyelamatkan diri sendiri dan juga orang lain. Karena kita juga tidak tahu siapa yang terjangkit virus corona, siapa yang tidak. Isolasi yang kita lakukan ini bertujuan untuk membuat safe zone bagi diri kita. Orang lain tidak mungkin pergi kerumah tanpa kepentingan, sehingga kita bisa aman. Bahkan, orang lain juga akan berasumsi hal yang sama.

Ditambah, karena penyebaran virus dari individu ke individulah yang membuat kita menjadi lebih ‘alert’ terhadap lainnya. Misalnya, kita bertemu dengan orang yang batuk dan pilek, secara sikap, kita akan jauh lebih hati-hati. Ini karena, gejala covid-19 salah satunya adalah batuk kering. Kemungkinan besar, orang yang batuk akan dicurigai sebagai orang yang membawa virus. Meski bukan berarti benar, tapi ini adalah bentuk pertahanan diri yang kita buat. Ada respon pertahanan diri secara sikap dan perbuatan. 

            Dalam perspektif ancaman, katakanlah, satu Negara mengembangkan militernya sedemikian rupa dan membuat sekitarnya terancam. Negara lain akan bereaksi menguatkan pertahanannya dengan meningkatkan persenjataannya atau beraliansi dengan beberapa Negara. Contoh lagi, ketika dunia dihadapkan pada krisis finansial 2008, kebijakan fiskal dan moneter pun dibuat untuk menghindari dampak lanjutan. Sama saja, ketika kita diejek atau dipukul, kita akan membalasnya.

            Artinya, respon kita terhadap covid-19 ini kurang lebih sama dengan hukum aksi-reaksi. Virus menyebakan penyakit pada kita, sehingga untuk menghindarinya, kita membuat perlindungan supaya tetap sehat. Katakanlah, jika kita salah bereaksi dengan tetap pergi ke keramaian. Bisa jadi, kita yang menjadi salah satu dari 1.790 orang yang positif corona. Yang kita ketahui, ancaman yang kita hadapi itu ada tiga: virus, individu, dan ketidaktahuan. Oleh karenanya, hal terpenting disini adalah apakah kita mampu bereaksi dengan tepat. Kita memang tidak tahu bagaimana dampak dari reaksi kita. Tapi, yang bisa kontrol adalah reaksi kita terhadap suatu hal.

*Penulis adalah sarjana Hubungan Internasional. Profil dapat dilihat di https://www.linkedin.com/in/rizkyridho/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *