Djelajah Bogor: Telaah Surya Kencana

Sampurasun, Sobat Energi!

Beberapa hari yang lalu, tim dari ENERGI Bogor bertamasya ke Surya Kencana. Niatnya ingin melihat progress pembangunan Surya Kencana dan dampaknya terhadap pedagang. Surya Kencana kental dengan nuansa historisnya, terutama Cina. Saat masuk, teman-teman disuguhkan dengan nuansa bangunan zaman kolonial ditambah sentuhan negara Tirai Bambu.  Pemerintah kota Bogor sendiri menargetkan kalau Surya Kencana bisa menjadi china town terbaik di Indonesia.

Dulu dan Kini

Pada awalnya, tata ruang jalanan Surya Kencana masih terlihat kumuh. Ruas pejalan kaki masih belum seluas sekarang. Tetapi, nilai tambahnya adalah pengunjung memiliki lahan parkir yang luas. Setelah di renovasi oleh pemerintah kota Bogor, Surya Kencan disulap menjadi tempat wisata ikonik yang membuat pengunjung ketagihan. Jalanan sudah tertata rapi dan ruas pejalan kaki lebih diperluas agar mereka bisa menikmati Surya Kencana.

Konsekuensi lainnya adalah adanya penataan pedagang kaki lima dan pengaturan tempat parkir. Pemerintah kota Bogor menyiapkan tempat khusus bagi pedagang untuk menjajakan dagangannya. Walaupun begitu, hanya beberapa (perkiraan sekitar 50 pedagang) yang bisa menikmati. Mereka juga diberi pelatihan yang relevan. Pengunjung juga tidak bisa parkir sembarang lagi. Pemkot menyiapkan lahan parkir tersendiri.

Meskipun begitu, masyarakat belum bisa menikmati hasilnya. Pada Maret 2020, pandemi menyerang Indonesia. Ini pun berdampak besar, terutama pada sektor ekonomi, bisnis, dan pariwisata. Ibu pedagang jahe yang namanya tak mau disebutkan sudah berjualan sejak tahun 1963 ini mengaku semenjak pandemi, penjualan menurun. Penyebab ini juga terkait protokol kesehatan yang tidak memperbolehkan keramaian dan pembatasan sosial.

Dampak yang Belum Merata?

Kendati demikian, warga menyambut positif atas renovasi yang dilakukan Pemkot. Bapak pedagang kue ape yang tidak ingin disebutkan namanya, mengaku setuju dengan pelebaran jalan Surya Kencana. “Kita sih ikut setuju aja karena semakin ramai daerah Surya Kencana dan rapih,” tukasnya. Tapi, ada juga yang kontra. Penjual jahe yang juga tidak ingin disebutkan namanya, mengaku lebih enak zaman dahulu dibanding sekarang. “Lebih enak zaman dulu dibandingkan sekarang. Dulu tidak pernah digusur, banyak pedagang disini. Sekarang, harus ada izin dari SATPOL PP,” jelasnya.

Pernyataan diatas juga diamini oleh pedagang kue ape yang kami temui. Menurut tuturannya, razia atau penggusuran ada. “razia atau penggusuran sih ada a, tapi karena mata pencaharian, kita balik lagi kesini sih,” dia mengakui. Namun, ibu pedagang jahe lebih beruntung karena dia diizinkan oleh pemilik lahan sehingga tidak terkena penggusuran. “Tanah ini tuh yang punya Vihara belakang, jadi kalau ada apa-apa, kami terlindungi,” jelasnya.

Ini berarti, meski sudah ada renovasi, tetapi secara kebijakan masih belum tertata. Ada pedagang yang terkena imbas negatifnya dan ada yang positifnya. Ada perbedaan antara ibu pedagang jahe dan bapak pedagang ape dimana relasi menjadi faktor penting. Sebenarnya ini wajar, namun pemerintah juga harus lebih aware terhadap pedagang yang menggantungkan hidupnya di Surya Kencana. Bukan berarti harus digusur, bisa dibuat semacam regulasi agar para pedagang yang tidak memiliki relasi bisa merasakan dampak positifnya.

Ini menjadi catatan bagi pemerintah Kota Bogor agar kebijakan yang dibuat bisa bermanfaat untuk semuanya. Penekanannya sebenarnya lebih kepada pemerataan akses dan sumber daya. Fokus pemerintah bukan hanya menata infrastruktur, tapi menata hak-hak pedagang yang telah lama berjualan di Surya kencana. Tugasnya adalah merangkul mereka yang tidak mendapatkan privilege dan sumber daya yang sedikit. Jika itu dilakukan, pemerataan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *